Tampilkan postingan dengan label PUBLIKASI KARYA TULIS ONLINE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUBLIKASI KARYA TULIS ONLINE. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2015

KETELADANAN GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Di era globalisasi masalah akhlak telah jauh merosot, teknologi canggih dan sosial budaya termasuk penyebab ter-erosinya akhlak anak-anak bangsa. Lepasnya nilai-nilai akhlak dan hilangnya keteladanan dari diri individu (manusia) sebaga makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan mulia, sehingga figur dan keteladanan sulit ditemui saat ini, tampa terkecuali merambah lingkungan dunia pendidikan.

Sekarang tidak lagi menjadi rahasia umum, di mana-mana baik di media massa maupun di media elektronik sering kali terdengar adanya beberapa berita yang negatif terkait akhlak para pendidik (guru dan orang tua) terhadap siswa dan anaknya, hal ini telah melanda dunia pendidikan masa kini di tanah air yang tercinta ini, sehingga dampaknya dapat menurunkan motivasi belajar siswa.

Kondisi yang memprihatinkan ini membuka tabir cakrawala fikirku untuk menulis artikel ini. Akhlak dan keteladan pendidik memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap motivasi belajar siswa. Pendidik yang berakhlakul karimah dapat memberikan pengaruh positif kepada siswa, begitu juga sebaliknya.

Pendidik yang jadi dambaan kedepan adalah dapat berpenampilan baik, selalu mencerminkan akhlak mulia, berketedan baik, adil, sopan, kasih sayang, ramah tamah, rendah hati,tidak menganggap remeh dan rendah orang lain, cerdas dan profesional dalam menyampaikan materi pembelajaran, dapat menggunakan media pembelajaran dengan baik, sehingga siswa bergairah dalam belajar dan termotivasi dengan sendirinya, tanpa disadari telah dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.

Pengirim artikel :
Rosmanidar, S.Pd.I (Guru PAI SDN 07 Rantau Alai)
Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir Indralaya

Kamis, 01 Januari 2015

KIRIM ARTIKEL ANDA

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh… 
Salam sejahtera bagi kita semua…

Yth. Rekan-rekan pengunjung situs www.dadangjsn.blogspot.comyang ingin mempublikasikan karya tulisnya, silahkan kirimkan melalui formulir yang tersedia di bawah ini, namun jika ingin melampirkan file khusus seperti photo maupun lampiran file word, pdf, dan lain-lain silahkan dikirim melalui email publikasikaryatulis@yahoo.co.id dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Alhamdulillaah… saat ini karya tulis ilmiah maupun artikel yang dikirim oleh pengunjung situs ini telah dipublikasikan di sini… Jika Anda hanya ingin membuat artikel singkat misalnya berita/kabar yang riil. Berikut formulir pengiriman artikel / karya tulis dari Anda untuk dipublikasikan secara gratis di situs www.dadangjsn.blogspot.com atau di www.dadangjsn.com (tergantung tema dari artikel ataupun karya tulis pengirim). 

Terimakasih yang sebesar-besarnya bagi Rekan-rekan yang sudah mengirimkan artikelnya, serta selamat bagi Anda yang karyanya sudah terpublikasi di sini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya khusus bagi Rekan-rekan yang kebetulan sudah mengirim artikel ataupun karya tulisnya, namun dengan berat hati terpaksa admin belum dapat mempublikasikan di situs ini, dikarenakan ada beberapa hal yang menjadi syarat dan ketentuan belum terpenuhi demi kebaikan kita semua. Terimakasih atas segala partisipasinya. Semoga semuanya berkah… Aaamiin…

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh…

Senin, 17 November 2014

BUKU SEBAGAI BASIS PEMBELAJARAN

Oleh : Syafruddin, S.Pd. NIP. 195612181980101001  
(Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pariaman)

Buku dan keunggulannya
       
Buku merupakan alat untuk mencapai kemajuan. Di dalamnya tersimpan berbagai ilmu. Ilmu yang tersimapan di dalam buku itu jika digali  ia merupakan sumber mata air ilmu pengetahuan. Mata air yang mengalir dalam buku ini akan dapat membersihkan karat-karat kebodohan. Masa depan pencinta buku akan lebih cerah dan pikirannya akan bertambah cerdas.

Tentu saja yang kita maksudkan dengan buku yang menjernihkan dan mencerdaskan itu adalah buku yang ditulis orang-orang yang kredibel dalam bidangnya. Orang yang merasa bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu dan pemebentukan karakter bangsa. Orang yang bersedia berkorban demi bangsa dan kecerdasannya. Orang yang menginginkan bangsanya mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dari orang ini akan mengalir ide-ide segar untuk merubah keadaan bangsa ke arah lebih baik. Mata air ide ini mengalir ke setiap orang yang haus akan ilmu. Dengan istilah lain buku yang dilahirkan oleh orang-orang kredibel adalah buku yang sarat dengan gizi ruhani. Bahasanya komunikatif,kalmatnya tertata dengan baik.


Buku yang kaya dengan gizi ruhani akan dapat menumbuh kembangkan kehidupan seseorang.  Ruhani adalah bagian penting kehidupan manusia yang harus disirami dan diberi makan. Ruhani yang kering dan gersang akan membawa manusia kepada keresahan dalam mencapai tujuan hidup. Dengan membaca buku-buku yang sarat gizi ruhani kehidupan akan menjadi dinamis, optimis dan bercahaya.

Amat disayangkan peran buku yang demikian besar dan penting itu,tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Budaya membaca belum tumbuh secara subur dalam kehidupan masyarakat. Inilah penyebab kita  tertinggal terus dar negara-negara lain. Sekolah sebagai tempat pembinaaan generasi muda dan tempat tumbuhnya benih-benih pemimpin untuk masa datang  juga belum  banyak geliatnya untuk menumbuhkan minat baca. Bukan karena kekurangan buku. Justru saat ini sekolah-sekolah sudah punya koleksi buku yang lumayan. Apalagi dengan dianggarkannya biaya pemeblian buku memlalui dana BOS  Buku.

Permasalahan yang kita lihat untuk menumbuhkan budaya baca adalah kurangnya motivasi dari pendidik. Guru-guru kita belumlah manusia yang haus ilmu pengetahuan. Sebagian mereka mengandalkan ilmu yang didapat dari perguruan tinggi . Seperti dikatakan Penyair Taufik Ismail mereka rabun membaca dan pincang menulis. Bagaiaman orang yang rabun untuk dapat membimbing? Bagaiamana orang yang pincang dapat berpacu untuk mencapai estafet.

Permasalahan lain untuk menumbuhkan minat baca adalah masalah buku yang ada di perpustakaan itu sendiri. Buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah belumlah ditulis secara baik. Hendaknya buku-buku yang di drop ke sekolah itu adalah buku yang menggerakkan dan buku yang bergizi. Buku-buku yang menggerakkan adalah buku yang apabila dibaca oleh seorang membuat  orang itu menjadi cerdas.bertambah ilmunya.

Dengan membaca buku yang menggerakkan seseorang tidak akan berhenti membaca satu buku saja, dia akan berusaha mencari dan mencari lagi ilmu yang dibutuhkannya. Jadi seseorang yang  tercerahkan dengan buku,tanpa disuruh dia akan berusaha sendiri untuk mencari buku-buku yang lebih baik gizinya dari buku yang telah dibacanya. Buku yang bergizi adalah buku yang membawa peningkatan wawasan seseorang. Ruhani seorang yang membaca  buku yang bergizi akan tumbuh dan berkembang secara baik. Ruhani yang tumbuh dan berkembang secara baik inilah yang menaikkan taraf dan kualitas hidup seseorang.

Kelemahan-kelamahan Dalam Penulisan Buku
     
Kalau buku yang dibaca itu tidak buku yang bergizi dan tidak menggerakkan pikiran, siswa akan menghentikan bacaannya dan meningggalkan perpustakaan. Inilah dampak negatif dari buku-buku yang di drop ke sekolah tanpa seleksi yang ketat.

Di sekolah, buku-buku yang menggerakkan dan bergizi  ini belum banyak kita temukan. Buku yang di koleksi  perpustakaan sekolah sebagian hanya memperdayakan siswa bukan yang memberdayakan siswa.Begitu juga di perpustakaan umum. Sebagian besar buku-buku yang ditulis oleh para pakar itu belum bisa menggerakkan dan  memberdayakan masyarakat pembaca. Artinya buku koleksi di perpustakaan itu,sebagaian besar ditulis secara tergesa-gesa tanpa memenuhi unsur penalaran dan logika Idenya bagus tetapi tidak tertata dan tidak disampaikan secara komunikatif.

Kalimatnya panjang-panjang sehingga sulit memahaminya dan membuat siswa menjadi bosan. Inilah penyakit penulisan buku yang  belum teratasi. Buku-buku lebih banyak mencapai  pemenuhan target dari pada kualitas dan segi manfaatnya. Untuk ini barangkali diperlukan satu tim yang mampu untuk menyeleksi buku-buku yang akan di drop kesekolah-sekolah. Atau berilah kebebasan  ke sekolah tentang buku-buku apa yang dibutuhkannya. Jangan banyak pendiktean tentang buku-buku koleksi sekolah.

Buku-buku yang dijadikan koleksi perpustakaan itu hendaknya buku-buku yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Kalau buku penunjang hendaknya memang  dapat dijadikan penambah wawasan. Kalau buku wajib hendaknya  dapat menuntun  dalam  pelaksanaan tugas. Jangan buku petunujuk guru  tidak relevan dengan pegangan siswa. Yang namanya buku petunjuk itu harus jelas operasional, jelas petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. 

Kurikulum 2013 diharapkan dapat merubah pola pikir guru dan siswa dalam belajar dan bekerja dalam melaksanakan tugas. Namun harapan yang  ditumpangkan  pada kurikulum 2013 ini masih terkendala dengan buku pegangan guru dan siswa. Buku pegangan guru dan buku pegangan siswa belum relevan.  Buku pegangan guru belum memberikan petunjuk konkrit tentang  tugas dan materi yang diberikan.  Buku pegangan siswa belum sepenuhnya dapat membimbing siswa untuk bekerja secara efektif. Contohnya buku pegangan  guru dan siswa  dalam bidang studi bahasa Indonesia (mungkin berlaku juga bagi buku pegangan bidang studi lain).

Buku pegangan guru tidak memberikan petunjuk yang jelas kepada guru bahasa indonesia tentang apa yang harus dikuasai siswa setiap  pertemuan. Akhirnya guru mengajar kembali kepada cara lama dengan metode ceramah. Padahal  dalam pembelajaran bahasa Indonesia (juga setiap bidang studi),setiap pertemuan, guru dapat memebrikan pemebelajaran dengan pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah meliputi; mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan dan mencipta. Dalam petunjuk guru ini tidak dijelaskan secara mendetail. Kalau guru diberi bimbingan dengan jelas melalui  buku maka pembelajaran akan menarik bagi siswa. Siswa akan dapat berkembang secara baik . Sebab dalam setiap tatap muka, guru mengembangkan potensi setiap anak.

Berikanlah buku yang baik kepada siswa jika kita menginginkan siswa  berkembang menurut potensinya.  Suguhkan kepada siswa buku yang bergizi  maka suplai ini akan menyehatkan ruhani siswa. Berikanlah kepada siswa buku yang menggerakkan maka potensi membacanya akan  berkembang dengan baik. Jika potensi membacanya berkembang, dia akan merasa haus dengan buku. Siswa yang haus akan bacaan,akan berusaha mencari bahan bacaan dimana dan ke mana saja. Sebab dia sudah merasakan bahwa bahan bacaan itu adalah kebutuhannya yang sudah tidak dapat ditunda. Jika kita sudah dapat mengembangkan potensi membaca anak di sekolah beberapa tahun mendatang,masyarakat  Indonesia  akan meningkat budaya bacanya.

Uraian Teori

Orang-orang sukses  tidak bisa melepaskan kehidupannya dari buku.  Dengan buku kesulitan menjadi mudah. Melalui membaca buku kualitas hidup bisa ditingkatkan. Butir-butir mutiara yang  dirangkai dalam buku, sanggup memberikan cahaya kehidupan kepada pembacanya. Kalau ingin membangun Indonesia yang lebih cerah di masa depan semua kita terutama yang peduli dengan nasib bangsa yang akan datang, harus ikut menggenjot agar bangsa ini gemar membaca. Kalau ingin mengejar ketertinggalan dari bangsa lain resepnya  adalah dengan banyak membaca buku. Kita harus melibatkan diri bagaimana supaya budaya baca ini dapat ditingkatkan. Kita harus memasang batu bata agar bangunan bangsa ini dapat lebih kokoh. Kekokohan ini akan bisa tegak dengan membaca.  Sikap  inilah yang  harus ditaamkan  bagi orang yang menginginkan agar bangsa ini tidak selalu pada rangking terbawah dalam segala yang negatif. Ini memerlukan kerja keras. Usaha ini tidak mengenal  lelah dan harus bersifat rutin dan berkelanjutan.

Shindunata  dalam memberikan  pengantar  buku Hernowo “Main-main dengan Teks “ menuliskan: ”membaca dan menulis bukanlah soal  metode atau teknik melainkan soal hidup dan keberanian”. Dari  kutipan ini dapat kita menarik nilai inspiratif, membaca buku itu adalah soal kebutuhan hidup. Orang yang  berani hidup harus banyak membaca. Jika ingin hidup lebih baik beranikan diri untuk banyak membaca.  Jangan dihanyutkan oleh masalah kehiduan. Orang yang hanyut dan larut dalam persoalan hidup adalah orang yangkurang membaca.

Terutama membaca kehidupan itu sendiri. Kemudian orang yang banyak membaca pasti dapat mengatasi kesulitan hidup. Apalagi kalau banyak membaca buku-buku tentang petunjuk kehidupan. Kemudian apa hubungannya dengan menulis? Orang yang banyak  membaca pasti bisa banyak menulis. Sebab   tulisan yang dilahirkan penulis berasal dari buku yang dibaca. Beban kehidupan yang berat bisa diringankan dengan membaca dan menuliskannya.

Fuad Hasan dalam memberikan pengantar buku “Bukuku Kakiku”: (editor  St.Sularto,dkk) mengatakan:” Dalam perjalanan sejarah masyarakat manusia  umumnya,membaca merupakan fungsi yang sangat penting artinya bagi kemajuan tingkat  peradaban manusia. Kiranya beralasan untuk menyatakan bahwa tingkat perkembangan manusia  berjalan seiring dengan mantapnya budaya baca”. Dari pendapat ini dapat kita lihat bahwa untuk merubah pola pikir pemalas menjadi rajin adalah dengan membaca .Untuk meningkatkan sikap pesimis menjadi optimis adalah dengan membaca. Kalau kita lihat bangsa-bangsa yang maju,mereka telah menjadikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan. Jepang misalnya adalah bangsa yang  maju di Asia.

Kemajuan bangsa Jepang adalah berkat program pemerintahannya yang mendorong agar bangsa Jepang banyak membaca. Dengan budaya baca yang tinggi masyarakat Jepang mengalami kemajuan pesat. Jepang yang hancur  dengan bom Hirosima dan Nagasaki, kemudian Jepang”membom dunia” dengan kemajuan industrinya. Jepang tidak menangisi kehancuran tetapi dijawab dengan membaca dan bekerja berdasarkan wawasan yang luas dari bacaan. Dengan membaca bangsa Jepang menjadi raja industri  dunia.  Membuat negara maju lainnya kalang kabut dengan membanjirnya hasil industri Jepang. Itulah keampuhan membaca untuk merubah kehidupan, merubah nasib bangsa.

Berkat keampuahan  membaca itulah,Allah Swt dalam surat pertama,yang diturunkn kepada Rasulullah  memerintahkan membaca.  Dengan membaca,umat yang jahiliah dalam 23 tahun. dapat menaklukkan dunia. Mereka tinggalkan sikap jahiliah yang hanya mengungkung pola pikir dan membutakan hati. Mereka tinggalkan  sikap jumud (terkungkung) dirubah dengan kekbebasan berpikir yang berdasar pijakkan kebenaran dari Allah dan RasulNya. Merka buka hatinya yang gelap dengan cahaya iman yang menyinari kehidupan.  

Bukan hanya kehidupan dunia, tetapi dunia dan akahirat. Buya Malik Ahmad dalam Tafsir Sinar Jilid 1 menafsirkan  surat Al Alaq ayat 1 sebagai berikut : “Perintah Iqra', membuat umat yang diam menjadi bergerak, merubah dari pasif menjadi aktif, membuat orang yang tidak paham menjadi sadar.

Orang yang menyadari  pentingnya perintah Iqra’ akan selalu berusaha bahwa peningkatan kualitas hidup adalah kewajiban. Kewajiban ini dilakukan karena dia sadar bahwa perintah yang diberikan Allah melalui rasul-Nya itu adalah suatu perintah untuk kepentingan dirinya sendiri. Perintah membaca bukanlah sekedar untuk menambah ilmu saja tetapi adalah untuk memperbaiki diri yang lemah,yang kosong dari iman. Kelemahan-kelemahan manusia akan dapat di atasi jika dia mau merubahnya.

Cara merubah itu adalah dengan membaca. Membaca bukan hanya  memahami huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Tetapi yang utama adalah mengambil nilai-nilai yang ada dari buku yang dibaca. Lainnya  adalah membaca untuk membaca kelemahan diri. Kelemahan diri bisa diperkuat jika yang dibaca itu adalah nilai-nilai yang dibutuhkan ruhani.  Ajaran yang paling kuat dalam menyuburkan ruhani adalah nilai yang terdapat dalam Al Quran dilengkapi dengan sunah Rasulullah.

Tinjauan dan Ulasan
      
Setelah kita  memahami hakikat membaca, kesadaran kita akan bertambah tentang ampuhnya membaca untuk merubah pribadi dan bangsa. Keampuhan membaca bukan hanya menguntungkan kepentingan saat membaca  saja,tetapi sudah itu hilang. Tidak seperti  itu yang diharapkan. Nilai-nilai yang kita ambil dari bacaan itu hendaknya dapat kelemahan diri, Kalau kita pemalas selama ini membaca,kita harus menyediakan waktu lebih banyak untuk membaca. Kurang dalam membaca berarti  kita belum menyadari tanggung jawab sebagai khalaifah Allah di bumi. Dengan membaca, tanggung jawab itu, hendaknya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Kalau ditinjau dari ilmu komunikasi, kata-kata yang baik itu akan menimbulkan energi positif. Orang yang selalu mendengar dan membaca kata yang baik dan positif dia akan bertindak positif. Sebaliknya orang yang selalu mendengar dan membaca kata-kata yang negatif akan cenderung bertindak negatif. Hal ini wajar sebab manusia dibentuk oleh hal-hal  yang masuk ke dalam dirinya. Jika yang masuk positif keluarnya juga positif, kalau yang masuk banyak yang negatif keluarnya juga hal yang negatif.

Jika kita ingin merubah diri kita dari negatif ke positif maka kita juga harus banyak membaca buku-buku yang positif. Kayakanlah diri dengan hal-hal yang positif maka kita akan tetap berpikir dan bertindak positif.

Kalau kita tinjau dari psikologi agama Islam, hal ini juga cocok. Islam mengajarkan melalui sebuah hadis Rasulullah, siapa yang dibesarkan dengan barang yang haram, maka neraka kesudahan hidupnya. Barang yang haram adalah barang tidak sesuai zatnya dengan tubuh kita. Bisa juga barang itu baik secara higienes tetapi cara mendapatkannya tidak sah berarti juga  haram. Barang haram ini akan mengalir ke seluruh tubuh orang yang memakannya. Jika aliran darahnya dipengaruhi oleh benda haram berati pola pikirnya cendrung kepada yang haram. Artinya orang yang memakan benda haram akan selalu tindakan dan pola pikirnya memperturutkan hawa nafsu dan bertindak di luar kemanusiaan. Sebab benda yang haram itu membawa kepada kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu itu alat setan untuk menjerumuskan manusia.

Kaitan dengan membaca buku adalah,seorang yang membaca buku berarti dia mensuplai makanan ruhani ke dalam jiwanya. Jika kata-kata yang ditawarkan buku adalah kata-kata yang bernas,baik dan bergizi maka berarti dia telah memasukkan gizi yang baik ke dalam tubuhnya. Kata-kata yang baik ini jika ditelan  dan dimasukkan menjadi gizi ruhani, maka ruhaninya akan berkembang secara baik. Itulah hal-hal yang positif dari kegiatan membaca buku.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan:

1.   Budaya baca belum berkembang secara baik di negara kita. Untuk itu pemerintah, sekolah, cendekiawan hendaknya dapat memotivasi masyarakat dan anak didik agar gemar membaca.
2.   Untuk menumbuhkan gemar membaca ini, buku-buku yang disediakan di perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa adalah buku-buku yang menimbulkan dan menggerakkan minat baca. Buku-buku tersebut harus berisikan ide-ide yang segar, kalimatnya tertata dengan baik, kata-katanya bernada positif dan membangkitkan selera baca. Dengan cara seperti ini masyarakat dan siswa di sekolah akan menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan. Sebab dengan membaca buku yang bergizi dan kalimat yang tertata dengan baik menyebabkan minat bacanya tumbuh. Dia tidak menginginkan membaca satu buku,tetapi membutuhkan dua atau tiga buku dengan tema yang sama atau berbeda tema.
3.   Membaca sangat ampuh untuk merubah pola pikir pribadi. Jika pola pikir berubah bangsa akan berubah. Bangsa ini terdiri dari pribadi-pribadi.
4.   Dari segi manapun kita meninjau, psikologi, komunikasi apa lagi agama, membaca itu adalah penting. Sebab dengan membaca, kekayaan batin kita akan bertambah. Dengan membaca kita akan berubah. Dengan membaca kualitas hidup bisa ditingkatkan. Semua ilmu akan mengajak pemiliknya kepada kemajuan.

Daftar Pustaka

  • Ahmad, H.A.,Malik, Tafsir Sinar Jilid 1,LPPA Muhammadiyah, Jakarta,1963
  • Hernowo, Main-main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi, Kaifa, Bandung 2004
  • Quantum Reading, MLC, Bandung, 2003
  • Bagaimana Membuat Buku Yang Menggugah, MLC, Bandung, 2005
  • Sularto, dkk. (editor), Bukuku Kakiku, Gramedia, Jakarta, 2004
  • Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013
  • Nur, Syafruddin, Buah-buah Manis Membaca dan Menulis,Forum Aktif Menulis(FAM) Indonesia,Kediri Jawa Timur, 2013

PENDIDIKAN ISLAM PESANTREN - MENUJU PENDIDIKAN PESANTREN BERSPEKTIF GENDER

Ditinjau sudut sosio-historisnya, banyak para pakar yang menyatakan bahwa Institusi pesantren lahir sebagai salah satu wujud pemberontakan kepada para imperialisme barat atas praktek diskriminasi terhadap keberadaan masyarakat pribumi. Tidak hanya itu, iapun lahir dari kesadaran penuh atas ghirahnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperjuangkan kebebasan dari segala bentuk tirani penjajahan, entah penjajahan berupa fisik maupun no-fisik. Sehingga Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) mengistilahkan pesantren sebagai intitusi indigenous, yakni institusi pendidikan yang mempunyai makna asli Indonesia.

Dalam perjalanannya, pesantren tidak jarang dicap sebagai institusi pendidikan tradisionalis, yang mempunyai kecenderungan ortodoksi dan menolak modernitas. Stempel tradisionalis tersebut lambat laun ternyata berimplikasi kuat terhadap dinamika pergumulan pesantren sebagai perannya dalam mengembangkan transformasi pendidikan. Sehingga demikian, disadari atau tidak stempel tradisionalis itu telah membawa angin segar bagi pesantren untuk tetap survive hingga saat ini.

Berdasarkan stempel tradisionalis tersebut, yang pada akhirnya membawa pesantren untuk terus berinstrospeksi dan menata keberadaanya. Bagi pesantren yang mempunyai keterbukaan dan progresifitas, stempel tradisionalis dijadikan sebagai motivasi untuk kemudian menjadikan pesantren lebih progresif sesuai dengan kebutuhan zaman. Lain sebaliknya, bagi pesantren yang cenderung tertutup dan represif, stempel tradisionalis telah menjadikan dorongan untuk semakin menonjolkan identitas tradisionalisnya dengan menolak sejumlah tawaran modernitas.

Lepas dari itu, perhatian besar tertuju pada pesantren yang mempunyai kecenderungan terbuka dan menerima modernitas. Yakni mengembangkan proses pendidikan yang tetap melestarikan tradisi dan khazanah-khazanah Islam klasik disatu sisi dan menerima modernitas disisi lain. Keterbukaan ini bukan tanpa sebab, kaidah klasik pesantren menyatakan “al-Muhafadhotu ‘ala Qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (Menjaga khazanah klasik dan menerima modernitas yang lebih baik). Prinsip keterbukaan dan progresifitas lain yang sesuai dengan kaidah diatas misalkan;  “Kaifa nataqaddam duuna ‘an natakhalla ‘an al-Turats” (Bagaimana kita bisa maju dengan tanpa membongkar tradisi [khazanah pesantren]).

Prinsip menjaga khazanah klasik ini ditunjukkan dengan menjadikan khazanah kitab kuning sebagai referensi utama dalam pesantren. Namun problematikanya adalah sejauh mana pesantren dapat mendudukan kitab kuning secara proporsional, terutama, jika dihadapkan dengan konteks kekinian. Problematika tersebut misalnya, seperti apa yang tertera dalam banyak kitab kuning.

Dalam kitab Uqud al-Lujain contohnya, setelah dilakukan penelian mendalam menggunakan metodologi ta’liq wa takhrij al-Haditsoleh Ibu Sinta Nuriyah Wahid dan kawan-kawan, tidak sedikit wacana-wacana yang tertulis dalam kitab itu, berkecenderungan bias gender. Dalam penelitiannya itu ditemukan 26 hadits lemah (dla’if) dan 35 hadits palsu (maudlu’) dari sekitar 120-an hadits dalam kitab ‘Uqud al-Lujjayn.

Tidak hanya, selain karena urusan pesantren begitu Kiai oriented, referensi yang dipelajarinya pun mendukung hal-hal yang belum mencerminkan keadilan dan kesetaraan gender. Sebut saja misalkan sejumlah kitab-kitab referensi wajib hampir seluruh pesantren khususnya di Jawa, kitab-kitab yang berpotensi bias gender selain Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zujain, karya Syekih Nawawi Banten, ada juga kitab Safinah al-Naja fi Maa Yajibu ‘alaa Abdi li Maulaahu, karya Syaikh Salim bin Abdullah bin Samir, Qurrah al-‘Uyun al-Nikah al-Syar’I bi Syarh Nazh Ibnu Yanun karya Abu Muhammad Maulana al-Tihami, Adab al-Mu’asyarah bain al-Zaujain li Tashil al-Sa’adah al-Zawjiyyah al-Haqiqisiyyahkarya Ahmad bin Asymuni, dan lain sebagainya.

Berdasarkan penelitian, kaidah dan prinsip keterbukaan tersebut, pesantren seharusnya membuka mata karena ia justru dapat memacu progresifitas pesantren yang akan memberikan kontribusi positif dalam mewujukan pendidikan bagi perempuan (santriwati) di pesantren yang berperspektif gender. Memberikan kebebasan dan keleluasaan ruang gerak bagi perempuan yang telah sekian lama didiskreditkan keberadaannya.

Bahwa perempuan (santriwati), (entah disadari atau tidak) atau sebagaimana sejarah dunia mencatat selalu dipersepsikan sebagai manusia bernomor dua dibelakang laki-laki, separuh harga dari laki-laki, yang keberadaannya selalu dipandang rendah dan diskriminatif.  Perempuan hanya dijadikan objek bukan subjek sebagaimana laki-laki. Perempuan dilarang untuk bersuara lantang dikancah publik. Ia dipaksa untuk hanya berdomisili diranah domestik; seputar dapur, sumur, dan kasur.

Perempuan di dzolimi tidak hanya berdasarkan budaya patriarkhi atau norma-norma sosial belaka, melainkan pula melalui sejumlah interpretasi literal para Kiai atas teks-teks keagamaan yang (meskipun) bersumber dari al-Qur’an, hadits, maupun kitab-kitab klasik (kitab kuning). Teks yang terakhir ini pulalah yang telah mengakibatkan budaya patriarkhi begitu melekat di pesantren.

Jika realitas bias gender dalam referensi pesantren tersebut tidak segera dilakukan reinterpretasi, maka tidak menutup kemungkinan pesantren akan kehilangan nilai-nilai humanis dan keadilan yang sejak dulu telah melekat dalam tubuh pesantren. Kendati demikian, kita patut berbangga hati atas kemunculan Kiai “nyentrik” sekelas KH. Husein Muhammad, Kiai sarungan asal Arjawinangun ini (kalau saja perjuangannya dapat direnungkan sejenak) telah memberikan pengaruh terhadap pergulatan diskursus kesetaraan gender, khususnya bagi kalangan pesantren.

Meneladani dan melanjutkan (mengistiqamahkan) perjuangan kontekstual KH. Husein Muhammad adalah keharusan. Oleh sebab itu, oleh Kiai-kiai (pesantren manapun) secepatnya dapat mengilhami serangkaian tafsir bahwa Islam ramah repempuan, ini berguna (terutama) dalam pemenuhan pendidikan berperspektif keadilan gender para santri (terutama santriwati) nya. Tiada lain adalah melalui serangkaian pemahaman (pengajian) dan gerakan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender dalam sistem pendidikan pesantren, minimalnya dengan cara melakukan interpretasi ulang terhadap kitab-kitab klasik yang bias gender itu. Karena sejatinya diskursus kesetaraan gender berbicara pada ranah sosio-kultural dalam mengembangkan aspek feminitas (feminity/nisaiyah) perempuan, bukan bermaksud mengungguli laki-laki Wallahu ‘alam.


Rabu, 22 Oktober 2014

CIRI-CIRI / KRITERIA PENULISAN YANG BAIK UNTUK DIPUBLIKASIKAN DI MEDIA ONLINE (INTERNET)

Media visual berupa tulisan menjadi salah satu bagian penyampaian pesan antara seorang penulis dengan pembacanya. Agar efektifitas dalam komunikasi optimal, diperlukan beberapa syarat yang dapat berlaku bukan hanya untuk penulisan, namun di sini akan saya ulas apa saja kriteria tulisan yang baik untuk dipublikasikan di media online, baik melalui situs jejaring sosial, email, blog, website, iklan, dan lain sebagainya.



Kriteria penulisan yang baik, berkualitas, serta efektif untuk dipublikasikan di media online di antaranya adalah :

1.   Buat judul dengan tulisan kapital dengan ukuran huruf yang lebih besar dan lebih tebal, ini penting dalam penglihatan pembaca, karena dengan penonjolan (highlight) tersebut, kata kunci ataupun tema utama dalam tulisan akan berpengaruh positif bagi pembaca untuk terus fokus pada penjabaran isi-isinya.

2.   Hindari singkatan kata, misalnya dan lain-lain, tapi dituliskan dll. Ini akan berefek tidak baik pada hasil terjemahan (translate) ke bahasa asing (selain bahasa Indonesia).

3.   Penyesuaian kata sambung antar kalimat, awal paragraf / alinea baru, dan seterusnya benar-benar menjadikan satu rangkaian yang saling terkait serta berurutan, runtut, jelas, dan terstruktur / sistematis.

4.   Penempatan alinea, sub bahasan, dan bagian tulisan yang enak dipandang mata, seperti jarak antara alinea, idealnya harus diberi 1 baris kosong sebagai penggalan antar alinea / paragraf, termasuk juga rata kanan kiri isi tulisan untuk memudahkan pembaca dalam membedakan mana kalimat yang masih bersambung, dan mana kalimat penutupnya.

5.   Penggunaan kosa kata serta tata bahasa yang semudah mungkin dipahami oleh pembaca, gunakan istilah asing maupun kata-kata majemuk seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari salah paham / tafsir / arti yang pada akhirnya menentukan pemahaman yang sama atau tidaknya dengan maksud penulis dalam mewujudkan isi pikiran ataupun perasaannya dalam tulisan tersebut. Karena pada dasarnya tulisan dipublikasikan salah satu tujuan utamanya adalah untuk menyamakan pemahaman antara penulis dan pembaca.

Selain 5 hal di atas, tentu masih ada lagi beberapa syarat yang diperlukan untuk menghasilkan karya tulis yang benar-benar berkualitas dan efektif dalam penyampaian pesan ataupun komunikasi khususnya untuk tulisan yang dipublikasikan melalui dunia maya yang sudah “mendunia” ini. Selamat berkarya Sahabat…

Selasa, 30 September 2014

SKRIPSI SARJANA PENDIDIKAN S-1 PG PAUD : PENGENALAN BENTUK, UKURAN DAN WARNA MELALUI BERMAIN PLAYDOUGH PADA ANAK USIA DINI

Skripsi ini diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan pemenuhan persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini.

Oleh : EMERENSIANA B.S.H. MAU (1001181039)         

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA 2014

Skripsi ini telah disetujui dan dipertahankan di Depan Dewan Penguji  pada Tanggal 27 Juni  2014

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah diterima oleh panitia ujian sarjana Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang Dalam Ujian Skripsi Yang Telah Diselenggarakan Pada :

Hari/Tanggal     : Jumat, 27 Juni 2014    
Tempat             : Ruangan Kuliah PG-PAUD FKIP Undana
Dinyatakan       : LULUS

KATA PENGANTAR

Para pembaca sekalian, di tahun 2014 ini pemikiran dan perhatian kita terfokuskan pada dua peristiwa besar yakni peristiwa kampanye pilpres periode 2014-2019 dan laga piala dunia yang menguras tenaga, pikiran serta emosi. Para cendekiawan lebih tepatnya aktifis pendidikan harus lebih mengarahkan pikiran dan perhatian mereka kepada visi/misi capres dan cawapres yang berkaitan dengan dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini.

Salah seorang bakal capres menegaskan visi/misinya tentang “revolusi mental”. “Revolusi mental” berarti proses perubahan daya pikir, interaksi sosial, emosional intelegensi serta penanaman karakter nilai budaya bangsa secara cepat bahkan mendadak. Perubahan mental tidak mampu terjadi secara mendadak jika tanpa “evolusi mental” dari dunia pendidikan.

Proses perubahan daya pikir, sosial emosional dan karakter tidak akan pernah mampu diubah oleh seorang presiden maupun wakil presiden dalam waktu lima tahun atau lebih kecuali seorang guru pendidikan anak usia dini. Sesungguhnya hal urgen yang terlupakan oleh para politikus ini adalah “revolusi mental hanya akan dan pasti akan terjadi apabila dibentuk sejak usia dini” tetapi sayangnya belum pernah terpikirkan untuk menyediakan infrastruktur dengan menyiapkan atau memperhatikan tenaga pendidik anak usia dini yang menunjang tercapainya revolusi mental itu sendiri.

Pendidikan anak sejak dini tentang karakter, nilai-nilai luhur, interaksi sosial, kreatifitas, daya juang, melakukan percobaan, dan melakukan penemuan (inovasi) merupakan dasar revolusi mental sebuah generasi baru.

Berkaitan dengan “revolusi mental” lebih tepatnya “evolusi” mental, penelitian ini ditujukan untuk mengarahkan perhatian anak dalam “menciptakan (inovasi)”  sesuatu yang dibutuhkan untuk mencapai perkembangan kognitif mereka. Menciptakan berarti anak melakukan percobaan dan menemukan hal baru meskipun sangat sederhana. Daya inovasi akan meminimalisir kecenderungan sikap konsumerisme dalam diri anak.

Hal sekecil apapun yang dilakukan pada usia dini akan melahirkan pemikiran kreatif untuk melakukan inovasi terhadap sesuatu yang telah ada pada saat mereka memasuki usia produktif, yang pada akhirnya “mental konsumerisme” berubah menjadi “mental inovasi dan kreasi”.

Skripsi ini akan mengulas bagaimana anak melakukan inovasi terhadap sesuatu yang telah dikenalnya dan tentunya dapat memberikan pengalaman berharga bagi perkembangan kognitif anak yang terfokus pada kemampuan mengenal bentuk, ukuran dan warna.

Senada dengan pandangan Vigotsky (dalam Montolalu, 2008) bahwa bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian, dan percobaan untuk memperoleh pengetahuan, maka pengalaman pembuatan PlayDough dan bermain PlayDough, dapat membantu anak mengenal berbagai macam konsep bentuk, ukuran dan warna secara mendalam lewat percobaan sederhana.

Semoga skripsi ini dapat memberikan gambaran informasi yang mendalam bagi para pembaca bahwa PlayDough merupakan media pembelajaran yang melahirkan kreatifitas dan motivasi belajar dalam diri anak khususnya dalam pengembangan aspek kognitif.

Kupang, Juni 2014

Penulis

ABSTRAK

Skripsi Emerensiana B. S. H Mau Tahun 2014 dengan judul “Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain PlayDough Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Tk Kristen Dorkas Nunhila Kupang” menitik beratkan pada masalah “bagaimana proses  Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain PlayDough Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Kristen Dorkas Nunhila Kupang?” dengan tujuan penelitian yakni untuk menggambarkan secara jelas dan mendalam tentang proses pengenalan bentuk, ukuran dan warna melalui bermain playdough pada anak usia 4-5 tahun di TK kristen dorkas nunhila kupang.

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Untuk mendapatkan data dan informasi akurat yang dibutuhkan, peneliti menentukan seorang anak sebagai informan utama. Dalam proses pengabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi teknik dengan menggunakan data dokumen sebagai data pembanding, triangulasi sumber menggunakan data hasil wawancara orangtua dan guru dengan data observasi dan wawancara pada anak serta menggunakan triangulasi teori.

Penelitian berlangsung di TK Kristen Dorkas Nunhila Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengenalan bentuk, ukuran dan warna melalui bermain PlayDough dapat memberikan kontribusi penting bagi perkembangan kognitif anak yakni kemampuan mengenal bentuk, ukuran dan warna. Selain itu, melalui bermain PlayDough daya konsentrasi, minat, ketekunan dan rasa ingin tahu anak terus berkembang melalui pengalaman langsung yang dialami oleh anak, juga kemampuan motorik halus dan bahasa anak turut berkembang selama proses bermain PlayDough.

Emerensiana B. S. H Mau Thesis 2014 with the title “The Introduction Of The Shapes, Sizes And Colors Through Play Pladough On Early Childhood (Case Studies In Christian  Kindergarten Dorcas Nunhila Kupang) with emphasis on the problem of “how the process of introduction of the shapes, sizes and colors through play playdough on early childhood in christian kindergarten dorcas nunhila kupang?” with a research purpose, namely to describe clearly and deeply about the process of introduction of shapes, sizes and colors through paly playdough on on early childhood in christian kindergarten dorcas nunhila kupang.

The method used the qualitative approach using observation, and interviews as a data collector field. In the process pengabsahan data, researchers using triangulation techniques using data document as data comparison, using data sources triangulation interviews parents ad teachers by the results of observation and interviews as well as using triangulation theory.

The study took place in a christian kidergarten dorcas nunhila kupang. The result showed that the indtroduction of shapes, sizes and colors through play pladough can make an important contribution of the development of the child’s cognitive ability to recognize shapes, sizes and colors. In addition, through play pladough concentration, interest, perseverance an curiosity of children continue to grow through direct experience suffered by children, also fine motor skill and co-developing chlidren’s language during play playdough.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang diarahkan untuk mengembangkan seluruh ranah perkembangan anak, baik aspek nilai moral agama, fisik motorik, bahasa, kognitif maupun sosial emosional. Kelima aspek perkembangan ini harus dikembangkan dan ditingkatkan secara seimbang dan berkesinambungan karena pada dasarnya kelima aspek ini saling berhubungan satu sama lain.

Anak usia 4-5 tahun merupakan rentang masa peka (golden age). Anak-anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi mereka. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan yakni lingkungan pendidikan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Karena anak usia 4-5 tahun berada dalam rentang usia peka, maka seluruh aspek pengetahuan anak perlu dikembangkan. Piaget (dalam Khasanah.2013) mengatakan bahwa pengetahuan terdiri dari tiga jenis, yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika matematika dan pengetahuan sosial. Pengetahuan fisik merupakan jenis pengetahuan yang meliputi objek-objek di alam dan karakteristiknya, seperti warna, berat, ukuran, tekstur dan segala sesuatu yang dapat diamati dan berkaitan dengan benda. Pengetahuan fisik disebut juga pengetahuan nyata. Hal ini berkaitan dengan benda-benda yang dapat dilihat, diraba, disentuh, didengar, dan dirasa. Pengetahuan fisik adalah pengetahuan yang berkembang pada anak. Pengetahuan ini adalah pengetahuan dasar karena merupakan pembentuk utama dari struktur mental yang mendasari bentuk-bentuk pengetahuan lain. Pengetahuan fisik berkembang melalui pengamatan anak dan interaksi anak dengan objek dan lingkungan.

Sujiono (2005) menyatakan bahwa pengembangan pengetahuan fisik dalam mengenal konsep bentuk, ukuran dan warna memiliki beberapa indikator yang hendaknya dicapai anak yaitu:

1)      Memilih benda menurut warna, bentuk dan ukuran,
2)      Mencocokkan benda menurut warna, bentuk dan ukuran,
3)  Membandingkan benda menurut ukurannya (besar-kecil, panjang-lebar, tinggi-rendah),
4)      Mengukur benda secara sederhana,
5)      Mengerti dan mengunakan bahasa ukuran seperti besar- kecil, tinggi-rendah, panjang-pendek dan sebagainya,
6)      Menciptakan bentuk dari kepingan geometri,
7)      Mencontoh bentuk-bentuk geometri,
8)      Menyebut, menunjukan dan mengelompokkan segi empat,
9)      Menyusun menara dari delapan kubus,
10)  Mengenal ukuran panjang berat dan isi serta meniru pola dengan empat kubus.

National Council of Teacher of Mathematics (NCTM,2000, dalam Carol & Barbara. 2008)  mengemukakan bahwa pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna merupakan standar anak memahami pengetahuan dasar matematika. Kegiatan penggolongan (klasifikasi), mengelompokan, dan membandingkan benda-benda yang serupa atau memiliki kesamaan merupakan salah satu proses penting untuk mengembangkan konsep bilangan.

Berdasarkan pandangan tersebut, dapat dipahami bahwa selain pengetahuan yang mendasar dalam pembentukan mental bagi pengetahuan lainnya, Kemampuan anak mengenal dan membedakan sesuatu objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna pun dapat memberikan potensi berkembangnya kecerdasan logika matematika anak.

Fakta yang ditemukan di lapangan pada waktu kegiatan PPL selama kurang lebih 6 bulan, peneliti menemukan anak-anak yang berusia 4-5 tahun memiliki kemampuan mengenal dan membedakan berbagai objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna  masih berada pada taraf yang sangat minim jika bertolak dari karakteristik perkembangan kognitif anak seusia mereka. Mereka mampu mengidentifikasi benda berdasarkan bentuk, ukuran dan warna apabila mereka menjawab bersama teman lain (hanya mengikuti teman lain) tetapi ketika diberi kesempatan untuk menjawab sendiri anak-anak tertentu belum mampu menjawabnya dengan benar.

Dari anak berjumlah 13 orang, hanya sekitar 3 orang (23,07%) yang mampu menjawab dengan benar dan sekitar 10 orang anak (76,92%) belum mampu mengenal dan membedakan bentuk, ukuran dan warna. Keadaan tersebut disebabkan oleh kurangnya kreatifitas guru untuk menciptakan media pembelajaran yang menarik bagi anak.

Guru hanya mengarahkan anak untuk bermain bebas di setiap sentra, dan bermain tanpa adanya suatu pengawasan dalam bentuk  keikutsertaan  pada saat anak bermain agar guru dapat mengeksplor pemahaman anak tentang hal yang akan dikembangkan melalui pertanyaan-pertanyaan eksplorasi. Selain itu, guru belum mampu memodifikasi media khususnya media PlayDough untuk mengembangkan kemampuan anak mengenal bentuk, ukuran dan warna yang ternyata media PlayDough sangat dapat dikreasikan untuk memberikan suatu pemahaman kepada anak. 

Pengenalan bentuk, ukuran dan warna dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Dunia anak merupakan dunia bermain dan anak belajar melalui bermain, maka guru dapat memperkenalkan bentuk, ukuran dan warna kepada anak tanpa harus mencari-cari metode pembelajaran yang menyusahkan bagi anak. Bermain merupakan media yang amat diperlukan untuk proses berpikir karena menunjang perkembangan intelektual melalui pengalaman yang memperkaya cara berpikir anak-anak. Penyelidikan Vigotsky (dalam Montolalu, 2008), membenarkan adanya hubungan erat antara bermain dengan perkembangan kognitif.

Bermain memberikan  kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian, mengadakan percobaan untuk memperoleh pengetahuan. Bermain juga membawa kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian-penelitian, mengadakan percobaan dan menumbuhkan daya imajinasi melalui kegiatan membentuk benda-benda seperti binatang sesuai imajinasi anak menggunakan tanah liat, PlayDough ( plastisin) dan balok (Montolalu, 2008).

Salah satu kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain yakni kemampuan mengenal benda berdasarkan bentuk, ukuran dan warna menggunakan PlayDough.

PlayDough merupakan salah satu media yang tepat untuk membantu anak mengenal dan membedakan objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna. Melalui bermain playDough, anak membentuk berbagai objek dengan ukuran yang berbeda, anak dapat memanipulasi berbagai bentuk geometris menggunakan adonan PlayDough, serta anak dapat mengenal jenis warna yang terdapat dalam adonan PlayDough  tersebut.

Dengan membentuk berbagai objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna, anak dapat mengembangkan daya pikir yakni daya imajinasi yang melahirkan kreatifitas dari dalam diri anak. US Departemen of Health and Human Services,2001 (dalam Swartz,2005), mengemukakan bahwa melalui bermain PlayDough, anak dapat mengembangkan kemampuannya di berbagai aspek seperti sosial emosional, bahasa, seni kreatifitas, dan kognitif (matematika yang berkaitan dengan pengenalan benda berdasarkan bentuk, ukuran, dan warna).

Pengalaman dengan bermain PlayDough (Plastisin) memungkinkan anak untuk bereksperimen dan bereksplorasi dengan cara yang bervariasi. Melalui bermain PlayDough, anak dapat menunjukan dan meningkatkan minat serta kesadaran angka dan menghitung sebagai sarana untuk memecahkan masalah dan menentukan kuantitas. Anak juga mulai menggunakan bahasa untuk membandingkan jumlah benda dengan istilah seperti lebih, kurang, lebih besar, kurang dari dan sama dengan.

Selain itu anak juga dapat mengembangkan kemampuan menggabungkan, memisahkan benda sesuai jumlah, dapat membedakan benda yang memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda serta anak dapat membangun pemahaman tentang letak suatu benda seperti di atas, di bawah, di depan, di belakang, di luar dan di dalam (Swartz,2005). Dari ulasan di atas dapat menjembatani pikiran kita bahwa bermain PlayDough cukup urgen dalam mengembangkan kemampuan anak mengenal konsep bentuk, ukuran dan warna.

Dengan adanya fenomena yang terungkap serta memahami begitu bermanfaatnya kegiatan bermain PlayDough bagi kemampuan anak mengenal bentuk, ukuran dan warna, maka peneliti terinspirasi untuk melakukan suatu penelitian dengan judul  “Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain PlayDough Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Kristen Dorkas Nunhila Kupang”.

Download skripsi tentang Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain Playdough Pada Anak Usia Dini (Studi Kasus Di TK. Kristen Dorkas Nunhila Kupang), silahkan download di sini… Semoga bermanfaat dan terimakasih…

Pengirim Karya Tulis : rinche.halle@yahoo.co.id

Senin, 15 September 2014

CARA MEMPUBLIKASIKAN / MENERBITKAN KARYA TULIS GRATIS SECARA ONLINE DI INTERNET

Ada berbagai cara ataupun alternatif untuk dapat mempublikasikan secara online karya tulis Anda, baik melalui media online maupun media cetak, namun di sini saya akan coba memberikan solusi bagi sebagian Rekan-rekan yang memiliki hobi menulis namun belum mendapatkan media tepat untuk mempublikasikan karya tulis tersebut.

Oleh karena itu, dapatkan kesempatan dan tempat yang tepat untuk mempublikasikan karya tulis dan artikel tentang pendidikan terbaik Anda melalui publikasi karya tulis online di www.dadangjsn.blogspot.com yang dalam setiap harinya dengan rata-rata page views pada situs ini lebih dari 30.000 PV dengan jumlah rata-rata pengunjung 10.000 s.d. 22.000 visitors setiap harinya, dan dalam beberapa hari, hingga tulisan ini dipublikasikan.

Melalui blog ini, izinkan saya pribadi untuk menyapa Anda semua, dan salam kenal untuk seluruh Sahabat maupun pengunjung web blog www.dadangjsn.blogspot.com, blog personal ini memang saya dedikasikan sebagai media pembelajaran, silaturahmi, dan informasi seputar pendidikan tentunya.

Mengingat, pada era globalisasi ini sering kita jumpai banyaknya isu-isu yang terus berkembang di masyarakat, tentu saja sebagian ada yang mendidik, dan sebagian lainnya cenderung destruktif bagi seluruh masyarakat khususnya bagi anak didik bangsa ini ke depannya. Dan berawal dari media online / internet.

Oleh karena itu dalam rangka ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cerdas pula, melalui artikel ini saya mengundang Sahabat-sahabat ataupun pengunjung yang ingin menampilkan karya tulisnya melalui media online / internet dapat mengirimkan artikel anda pada email saya di alamat email publikasikaryatulis@yahoo.com. Mari kita bersama-sama saling bersinergi dalam upaya perbaikan melalui karya-karya tulis yang konstruktif, aplikatif, dan efektif demi generasi-generasi muda bangsa yang terus lebih baik.

Pada intinya, saya akan menampilkan karya tulis dari Anda semua yang berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut :

1.   Materi ajar dari guru-guru untuk seluruh jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta.
2.      Metode, teknik, tips, maupun triks belajar maupun mengajar yang efektif.
3.      Opini seputar pendidikan dari seluruh lapisan masyarakat.
4.      Tutorial singkat mengenai optimalisasi pemanfaatan TIK.
5.      Penekanan keagamaan dan moral bagi peserta didik.
6.      Pengenalan profil sekolah beserta visi-misinya, untuk di wilayah NKRI.
7.      Kisah-kisah inspiratif pendidikan yang nyata.
8.      Cerpen, Puisi, Pantun, ataupun karya-karya siswa lainnya.
9.      Pengumuman dan informasi penting pendidikan.
10.    dan lain sebagainya.

Untuk tulisan-tulisan yang telah dikirimkan melalui email publikasikaryatulis@yahoo.com, lampirkan juga photo ataupun dokumen terkait beserta profil singkat Anda sebagai penulis. Setelah file karya tulis Anda beserta lampiran terkait berhasil terkirim via email publikasi karya tulis online di atas. Selanjutnya segera beritahu saya melalui :

1.      Komentar via Facebook atau komentar ID pada kolom komentar di bawah artikel ini.
2.      Inbox melalui akun Facebook Admin.

Berikut ini aturan-aturan umum serta cara pengiriman artikel yang akan ditampilkan / dipublikasikan online gratis di internet melalui www.dadangjsn.blogspot.com :

1.      Layanan penerbitan online karya tulis ini tidak dipungut biaya (gratis).
2.      Hak cipta tetap ada pada penulis artikel aslinya.
3.      Artikel / tulisan belum pernah dipublikasikan online.
4.      Jumlah pengiriman artikel tidak dibatasi.
5.      File artikel dalam format word, untuk proses editing (optimalisasi SEO).
6.      Jumlah maksimal tulisan dalam word sebanyak 3 lembar dengan ukuran kertas A4/F4 dan ukuran huruf 10 (Arial).
7.    Pengiriman artikel dapat disertai dengan pas photo penulis, maupun photo-photo lainnya yang berhubungan dengan tema tulisan.
8.   Pencantuman nama penulis (pengirim), profil singkat, ataupun photo penulis pada setiap artikel yang dipublikasikan, tergantung permintaan penulis asli (pengirim).
9.      Aturan-aturan umum ini akan terus diperbaiki apabila diperlukan, demi kebaikan kita semua.

Untuk selanjutnya, saya tunggu tulisan atau artikel dari karya tulis asli Anda, untuk segera dipublikasikan di web blog ini, dan semoga tulisan-tulisan Anda semua nanti benar-benar bermanfaat untuk semakin menambah jaringan silaturahmi sehingga bertambah pula kebaikan serta manfaat bagi kita semua. Amiin…